Oleh : Cahyadi Takariawan
Pengertian Tazkiyatun Nafs
“Tazkiyatun nafs” terdiri dari kata “at-tazkiyah” dan “an-nafs”. At-tazkiyah bermakna at-tat-hir, yaitu penyucian atau pembersihan. An-nafs (jamak : nufus) berarti jiwa atau nafsu. Jadi, tazkiyatun nafs berarti penyucian jiwa atau pembersihan nafsu. Kata at-tazkiyah juga memiliki makna an-numuw, yaitu tumbuh. Tazkiyatun nafs juga berarti menumbuhkan semua potensi kebaikan jiwa manusia.
Ibnu Taimiyah menyatakan,
فالتزكية وإن كان أصلها النماء، والبركة وزيادة الخير، فإنما تحصل بإزالة الشر؛ فلهذا صار التزكي يجمع هذا وهذا
“At-tazkiyah, meskipun makna asalnya adalah pertumbuhan, keberkahan dan pertambahan kebaikan, namun hal itu hanya bisa tercapai dengan menjauhi segala keburukan. Sehingga jadilah tazkiyah itu mengumpulkan antara menjauhi keburukan dan meningkatkan kebaikan.” (Majmu’ Al-Fatawa)
Pada dasarnya tazkiyatun nafs adalah aktivitas mengosongkan atau menyucikan jiwa dari sifat-sifat (akhlaq) yang buruk atau tercela (disebut dengan takhalli), kemudian menghiasi jiwa dengan sifat-sifat (akhlaq) yang baik atau terpuji (disebut dengan tahalli), dan menyambungkan jiwa kepada keagungan Allah Ta’ala (disebut dengan tajalli).
Ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala, “Sebenarnya Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 49), Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata,
أي: بالإيمان والعمل الصالح بالتخلي عن الأخلاق الرذيلة، والتحلي بالصفات الجميلة
“Yaitu Allah membersihkan diri mereka dengan iman dan amal shalih, yaitu dengan at-takhalli, membersihkan diri dari akhlak yang buruk, dan at-tahalli, menghiasi diri dengan sifat-sifat yang mulia.” (Lihat Taisiir Karimir Rahman)
Hati adalah Pusat Kebaikan Manusia
Nabi saw bersabda, “Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari no.52, Muslim no.1599).
Abu Hurairah ra mengatakan, “Hati ibarat raja, sedangkan anggota badan ibarat pasukannya. Apabila baik rajanya, maka baik pula pasukannya, apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya.” (Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf dan al-Baihaqi dalam Al-Jami’ li Syu’abil lman dengan sanad shahih).
Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Amalan hati adalah pokok sedangkan amalan badan itu adalah penyerta dan penyempurna. Sesungguhnya niat itu laksana ruh sedangkan amalan itu laksana badan. Apabila ruh meninggalkan badan, maka ia akan mati. Maka, mempelajari hukum-hukum hati lebih penting daripada mempelajari hukum-hukum badan.”
Urgensi Tazkiyatun Nafs
Ada sangat banyak urgensi tazkiyatun nafs bagi manusia, terlebih bagi manusia yang hidup di zaman sekarang —yang jauh dari masa kenabian.
- Tazkiyatun Nafs adalah Tujuan Diutusnya Nabi saw
Penyucian jiwa adalah salah satu tujuan diutusnya Nabi saw.
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, dan menyucikan(diri)mu, dan mengajarkan kepadamu kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 151)
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ
“Sungguh Allah telah memberi karunia (yang besar) kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164)
Makna firman-Nya “menyucikan (jiwa) mereka” adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlak, kotoran jiwa dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)
- Taqwa Dicapai dengan Penyucian Jiwa
Makna takwa yang hakiki adalah penyucian jiwa itu sendiri (Lihat kitab Manhajul Anbiya’ fii Tazkiyatin Nufus). Ketakwaan kepada Allah tidak akan mungkin dicapai kecuali dengan berusaha menyucikan dan membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran yang menghalangi seorang hamba untuk dekat kepada Allah Ta’ala.
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاها قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams : 7-10)
Imam Maimun bin Mihran (seorang ulama tabi’in) berkata, “Seorang hamba tidak akan mencapai takwa sehingga dia melakukan muhasabatun nafsi (introspeksi terhadap keinginan jiwa untuk mencapai kesucian jiwa) yang lebih ketat daripada seorang pedagang yang selalu mengawasi sekutu dagangnya.” (Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan)
- Mendekatkan Hamba kepada Allah Ta’ala
Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah mengatakan, “Orang-orang yang menempuh jalan (untuk mencari keridhaan) Allah Ta’ala, meskipun jalan dan metode yang mereka tempuh berbeda-beda, akan tetapi mereka sepakat mengatakan bahwa nafsu (jiwa) manusia adalah penghalang utama bagi hatinya untuk sampai kepada ridha Allah Ta’ala. Sehingga seorang hamba tidak akan mencapai kedekatan kepada Allah Ta’ala melainkan setelah dia berusaha menentang dan menguasai nafsunya –dengan melakukan tazkiyatun nufus)” (lihat Kitab Ighatsatul Lahfan)
- Menghindari Kematian Hati
Allah berfirman:
كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), bahkan menutupi hati mereka perbuatan (dosa) yang selalu mereka lakukan” (QS. Al-Muthaffifin :14)
Nabi saw bersabda, menjelaskan makna ayat di atas,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ، زَادَتْ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ { كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa maka akan dibubuhkan satu titik hitam di hatinya. Kalau dia bertaubat, meninggalkan (dosa tersebut) dan memohon ampun, maka hatinya akan bening, (tetapi) jika dosanya bertambah maka akan bertambah pula titik hitam tersebut. Itulah ar-ran (penutup hati) yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, “Sekali-kali tidak (demikian), bahkan menutupi hati mereka perbuatan (dosa) yang selalu mereka lakukan” (HR. Ibnu Majah, no. 4244; Al-Hakim, 1/45 dan 2/562 serta Ahmad, 2/297. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani).
- Menguatkan Hati Manusia
Nabi saw bersabda:
تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ عَرْضَ الْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَتْ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَتْ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ الْقُلُوبُ عَلَى قَلْبَيْنِ قَلْبٌ أَبْيَضٌ مِثْلَ الصَّفَا لَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَيَصِيرُ الآخَرُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ
“Ditampakkan fitnah-fitnah di permukaan hati manusia seperti (anyaman) tikar sedikit demi sedikit. Maka hati yang menyerapnya akan dibubuhi satu titik hitam padanya, sedangkan hati yang mengingkarinya akan dibubuhi satu titik putih padanya. Sehingga (pada akhirnya) semua hati manusia akan (terbagi) menjadi dua macam: (pertama): hati yang putih (bersih dan kuat) seperti batu cadas, sehingga tidak akan dipengaruhi oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada (sampai hari kiamat). Kedua: hati yang hitam keabu-abuan, seperti gelas yang miring atau terbalik, dia tidak mengenal kebaikan sebagai kebaikan dan keburukan sebagai keburukan, kecuali yang bersumber dari hawa nafsunya. HR. Muslim, no. 144.
- Menenteramkan Hati
Allah berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allâh hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du : 28).
Maksudnya, dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala kegalauan dan kegundahan dalam hati manusia akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan. Bahkan tidak ada sesuatupun yang lebih kuat (dalam) mendatangkan ketentraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berzikir kepada Allah Azza wa Jalla. (Syaikh As-Sa’di, Taisir Karimirrahman).
Nabi saw bersabda,
الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ
“Kebaikan itu adalah sesuatu yang menjadikan jiwa manusia tenang dan hatinya tenteram” (HR. Ahmad, 4/194. Dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)
- Jalan Keberuntungan dan Kebahagiaan
Allah berfirman,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, dan mengingat nama Rabb-nya, lalu ia shalat.” (QS. Al-A’la: 14-15)
“Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya” (Q.S Asy-Syams: 9-10)
Ibnu Katsir menjelaskan makna firman Allah, “sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”, yaitu sungguh berbahagialah orang yang mensucikan jiwanya dengan menaati-Nya.
- Menyelamatkan Manusia
Allah berfirman,
يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ
“Pada hari yang harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88 – 89)
Cara Menyucikan Jiwa
Ada sangat cara untuk melakukan tazkiyatun nafs, dan pada dasarnya berbagai macam cara ini sudah kita ketahui dan sudah kita lakukan. Akan tetapi bisa jadi, dalam melaksanakan kurang disertai pemahaman akan urgensi aktivitas tersebut dalam konteks penyucian jiwa.
- Bertaubat kepada Allah
Nabi saw bersabda,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ
“Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa maka akan dibubuhkan satu titik hitam di hatinya. Kalau dia bertaubat, meninggalkan (dosa) dan memohon ampun (kepada Allah), maka hatinya akan bening” (HR. Ibnu Majah, no. 4244; Al-Hakim, 1/45 dan 2/562 serta Ahmad, 2/297)
- Mengakrabi Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah sebaik-baik obat penyakit hati yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembuhkan dan menghilangkan semua bentuk keburukan dan penyakit yang ada di dalam hati manusia.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat atau pelajaran dari Rabbmu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yunus : 57).
- Memohon kepada Allah
Dalam hadits qudsi, Allah Azza wa Jalla berfirman:
يَاعِبَادِي ، كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ
“Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk (taufik) kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian” HR. Muslim, no. 2577.
Agar jiwa kita selalu bersih dan suci, hendaknya memohon kepada Allah Ta’ala, sebagaimana contoh doa yang disampaikan Nabi saw,
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا
“Allahumma aati nafsi taqwaha wa zakkiha, anta khairu man zakkahaa, anta waliyyuha wa maulaha. Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaan, dan sucikanlah jiwaku (dengan ketakwaan itu), Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya, (dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya.” (HR. Muslim no. 2722)
- Melaksanakan Ibadah dan Ketaatan kepada Allah
Semua ibadah pada dasarnya memiliki sisi pembersihan jiwa. Misalnya berdzikir, berwudhu, dan shalat, adalah upaya membersihkan jiwa manusia dari godaan setan. Hal itu tampak dari sabda Nabi saw berikut ini,
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ على قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إذا هو نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فذكر اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صلى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ
“Setan senantiasa mengikatkan tiga ikatan di pangkal kepala kalian, bila ia sedang tidur. Setan menepuk pada setiap ikatan, sambil berkata: malam masih panjang, maka tidurlah. Bila ia terjaga lalu berdzikir kepada Allah, maka satu ikatan akan terurai, dan bila ia berwudlu, maka satu ikatan lagi akan terurai, dan bila ia shalat, maka satu ikatan lagi akan terurai, sehingga ia pada pagi itu akan menjadi bersemangat dan berjiwa baik, dan bila ia tidak melakukan hal itu, maka jiwanya menjadi buruk dan pemalas.” (HR Bukhari 1091).
Zakat adalah ibadah yang membersihkan jiwa manusia. Allah Swt berfirman,
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَوَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu dapat memberi ketenangan bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah : 103)
Puasa adalah ibadah yang membersihkan jiwa manusia. Nabi saw bersabda:
صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ يُذْهِبْنَ وَحَرَ الصَّدْرِ
“Puasa Ramadhan dan puasa tiga hari di setiap bulan (ayyamul bidh), menghilangkan keangkuhan di dalam jiwa“ (Musnad Imam Ahmad, no. 23070)
Demikianlah seluruh jenis ibadah dan ketaatan kepada Allah, termasuk haji dan umrah, adalah sarana penyucian jiwa manusia.
- Berteman dengan Orang Salih
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (QS. Al-Kahfi : 28)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab Taisir Karimir Rahman menjelaskan, Allah memerintahkan Nabi saw agar beliau bersabar bersama orang-orang mukmin, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang bertaubat kepada Allah. Orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari, yaitu di awal dan akhir siang, mereka mengharap keridhaan-Nya. Allah menyifati mereka dengan ibadah dan ikhlas dalam beribadah. Di dalam ayat ini terdapat perintah untuk berkawan dengan orang-orang baik, menundukkan jiwa untuk berkawan dan bergaul dengan mereka, walaupun mereka adalah orang-orang miskin, karena sesungguhnya berkawan dengan mereka terdapat faedah-faedah yang tidak terbatas”.
Ibrahim Al-Khawwash berkata:
دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ، وَخَلَاءُ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ
“Obat hati itu ada lima : membaca al-Qur’an dengan tadabbur, kosongnya perut (dengan puasa), shalat malam, berdoa di waktu sahar (akhir malam sebelum Shubuh), dan duduk bersama orang-orang shalih”. (lihat Al-Adzkar karya Al-Imam An-Nawawi)
- Menjauhi Bersahabat dengan Orang yang Lalai
Allah berfirman,
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari berdzikir (mengingat) Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas” (QS. Al-Kahfi :28).
Bahan Bacaan
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Ibnu Rajab Al-Hambali dan Imam Al-Ghazali, Tazkiyatun Nafs Konsep Penyucian Jiwa, Penerbit Pustaka Arafah
Said Hawwa, Tazkiyatun Nafs, Menyucikan Jiwa, Era Adicitra Intermedia