Kembali
Sastra Budaya

Suatu Saat, Menulis Akan Menjadi Napasmu

Oleh : Cahyadi Takariawan

Jika kamu berhasil membiasakan diri menulis setiap hari, kamu akan merasakan keasyikan menulis. Jika kamu berhasil menemukan makna dalam menulis, kamu akan mencintai aktivitas menulis, yang membuatmu tak bisa dilarang menulis. Jika kamu berhasil menemukan tujuan terdalam dari menulis, kamu akan terus menerus menulis, dimanapun kamu berada. Jika kamu menemukan kesejiwaan dalam aktivitas menulis, maka menulis telah menjadi napas hidupmu.

“Bagi saya, menulis itu seperti bernapas,” kata Pablo Neruda. “Saya tidak bisa hidup kalau tak bernapas, dan saya tidak bisa hidup kalau tak menulis,” lanjutnya dalam wawancara bersama Jurnal Paris Review  yang terbit 1971. Neruda adalah penyair produktif kelahiran Chili. Nama aslinya adalah Ricardo Fliecer Reyes Basoalto. Di antara karya besarnya adalah Veinte Poemas de Amor, Selected Poems of Pablo Neruda, Love Poems, dan Cien Sonetos de Amor.

Menulis juga sudah menjadi jiwa bagi seorang Kuntowijoyo. Pada awal 1992 dirinya mengalami sakit, terkena meningoencephalitis. Penyakit ini membuatnya tidak bisa beraktivitas. Namun penyakit ganas itu tak membuat Kuntowijoyo berhenti menulis. Menulis telah menjadi aliran darah dan denyut nadinya. Menulis telah menjadi nafas hidupnya, maka penyakit tak bisa menghentikan semangat untuk menulis. Di tengah sakit, Kuntowijoyo justru sangat produktif menulis. Dalam kondisi sulit bergerak, ia menulis hanya dengan menggunakan satu jari saja, yaitu jari telunjuk kanan. Itupun dilakukan dengan sangat pelan-pelan. Mengetikkan huruf demi huruf dengan satu jari.

Demikian pula, menulis telah menjadi napas bagi Dahlan Iskan. Setiap hari ia selalu menulis —tentang apapun. Sejak bercerita pengalaman perjalanan hingga perkembangan dunia paling mutakhir. Ia banyak menulis di blog pribadinya, Di’sway (https://www.disway.id). Komitmen Dahlan Iskan, sebuah tulisan harus terbit pada jam 05.00 WIB —setiap pagi. Karena jam 05.00 pagi adalah waktu ideal bagi masyarakat untuk memulai aktivitas di hari baru. Maka Dahlan terus menerus menulis, bahkan saat tengah sakit dan dirawat di rumah sakit.

Di masa terdahulu, sangat banyak ulama yang menjadikan aktivitas menulis sebagai ibadah yang menghanyutkan. Imam Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dalam kitab Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi bahwa Ubaid bin Yaisy berkata, ”Selama 30 tahun aku makan tidak memakai tangan sendiri. Saudari perempuanku yang menyuapkan makanan ke mulutku sementara aku sibuk menulis hadits.” Keasyikan menulis, membuatnya tak punya waktu untuk makan. Sayang kalau waktu terbuang untuk makan.

Ibnu Suhnun, ulama hadits, memiliki pengalaman yang sama. Al-Qadhi Iyadh mencatat dalam kitab Tartibul Madarik bahwa setelah selesai menulis hadits menjelang Subuh, Ibnu Suhnun menyuruh pembantunya menyediakan makanan karena ia merasa lapar. “Syeikh, Anda kan sudah makan barusan? Saya tadi menyuapkan makanan saat Anda sedang sibuk menulis”, kata sang pembantu. Ibnu Suhnun terheran lalu berkata,”Tapi saya tadi tidak merasakannya.” Menulis membuatnya terhanyut, sampai tidak sadar bahwa telah disuap makan oleh pembantunya.

Bahkan, Kamu Tak Akan Sanggup Menghentikannya

Jika kamu telah menemukan getaran jiwa dalam setiap aktivitas menulis, artinya kamu telah menjiwainya. Kamu telah masuk dalam dunia menulis. Kamu akan terus menerus menulis, tanpa ada yang menyuruh, tanpa ada yang mengharuskan —bahkan oleh diri kamu sendiri. Sampai suatu ketika kamu tidak bisa berhenti menulis. Kamu tak bisa menghentikan dirimu sendiri untuk menulis.

“Kenapa saya menulis? Saya menulis karena saya tidak bisa tidak melakukannya”, ujar Bernard Batubara. “Saya sudah pernah mencoba berhenti menulis. Dengan sangat menyesal saya harus bilang bahwa bahkan untuk yang satu ini pun saya gagal. Setiap kali saya memalingkan wajah ke hal-hal lain yang lebih bikin saya bahagia, lebih tidak bikin saya cemas, setiap kali itu pula saya seperti ditarik kembali ke depan layar laptop, handphone, buku catatan, untuk menulis apa yang saya alami, pikirkan, pertanyakan. Saya ingin tidak menulis, tapi saya tidak bisa.”

Selamat berkarya, sahabat semua. Tekunlah menulis, teruslah berkarya, suatu saat nanti, menulis akan menjadi napasmu.

Bahan Bacaan

Bernard Batubara, Kenapa Mau Jadi Penulis? www.medium.com, 28 Agustus 2018

Khun, Heartbeat Style, Menulis Patah-patah ala Dahlan Iskan, https://ceritakhun.com, 23 November 2019

Poetry Foundation, Pablo Neruda, https://www.poetryfoundation.org

Wan Anwar, Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya, Grasindo, Jakarta, 2007

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.