Kembali
Sastra Budaya

Self Editing, Mengedit Tulisan Sendiri

Oleh : Cahyadi Takariawan dan Rahajeng Mufid

Salah satu penyakit tulisan adalah, tak ada isinya —yang bermanfaat. Hanya gelembung dan busa-busa, tanpa isi apa-apa.

——————————————

Perlukah sebuah tulisan diedit? Jawabannya jelas, sangat perlu —apabila tulisan tersebut akan dipublikasikan. Lewat media apa pun tulisan Anda publikasikan, tulisan wajib Anda edit. Namun jika tulisan itu tak hendak Anda publikasikan, hanya untuk catatan pribadi, atau hanya untuk latihan melancarkan menulis, maka tak ada perlunya Anda mengedit tulisan.

Menulis adalah aktivitas mengungkapkan isi pikiran dan membiarkannya mengalir sesuai pikiran Anda. Karena itu, menulis menjadi mudah. Namun agar tulisan Anda menjadi berkualitas, perlu adanya proses pengeditan. Mengedit tulisan itu lebih sulit karena perlu adanya proses berpikir yang komprehensif, teliti, dan hati-hati, sehingga menghasilkan tulisan yang bermutu dan bermanfaat bagi diri penulis maupun orang lain.

Kadang Anda sangat ingin bisa mengedit tulisan sendiri, tapi begitu mulai sering buntu di tengah jalan, malah kadang muncul pikiran bahwa tulisan sudah tidak tertolong —tak bisa diselamatkan lagi, sampai akhirnya mood hancur dan ujung-ujungnya, boro-boro mau diedit, dibaca lagi saja rasanya sudah malu. Padahal sebenarnya tidak banyak skill yang perlu dipelajari untuk bisa mengedit tulisan sendiri. Karena pada intinya, semua yang dilakukan oleh editor itu adalah upaya untuk menjadikan naskah layak dan enak dibaca.

Kriteria Naskah Enak Dibaca

Mengedit adalah usaha menjadikan tulisan layak dan enak dibaca, maka Anda harus tahu terlebih dahulu, apa kriteria naskah yang layak dan enak dibaca? Berikut beberapa kriteria tulisan layak dan enak dibaca, dari perspektif positive writing.

  • Secara isi, telah memenuhi prinsip kebenaran, etik dan kebermanfaatan

Sebagai penulis, Anda harus memastikan bahwa tulisan Anda telah memenuhi prinsip kebenaran, etik, dan kebermanfaatan. Tidak ada isi tulisan yang salah secara value, tidak etis, berpotensi melanggar UU dan kepatutan. Secara isi, Anda yakin telah menuliskan hal yang bermanfaat. Tulisan Anda memang “ada isinya”, bukan sekadar kumpulan kata-kata tanpa makna yang bermanfaat. Apalagi kalau sampai menebar hoaks.

Saya terinspirasi oleh ungkapan Hannah Frankman (2017), “One of the worst things on any news feed is an article that says nothing. They’re shockingly common. So often people just write fluff”. Salah satu penyakit tulisan adalah, tak ada isinya —yang bermanfaat. Hanya gelembung dan busa-busa, tanpa isi apa-apa. Maka editlah dari sisi isi, pastikan memang ada isinya.

  • Secara isi, telah sesuai dengan apa yang Anda inginkan

Sebagai penulis Anda harus memastikan, bahwa semua isi tulisan Anda sudah sesuai dengan apa yang Anda kehendaki. Misalnya, Anda ingin mengatakan bahwa “Sebagai insan beriman, kita tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita”. Namun, karena kurang teliti dalam menulis, kalimatnya menjadi “Sebagai insan beriman, kita boleh menjelek-jelekkan orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita”.

Lihat, hanya karena kurang kata “tidak”, isinya sudah berbeda 180 derajat. Padahal, itu adalah kelalaian, karena tidak teliti dalam menulis. Inilah pentingnya mengedit, sebelum mempublikasikan tulisan.

  • Secara teknis, tidak ada kesalahan penulisan

Salah ketik atau salah tulis adalah hal yang wajar dalam proses menulis. Apalagi ketika menulis dengan smartphone yang berukuran relatif kecil, sementara Anda termasuk kelompok pemilik jari-jari yang besar. Pasti sering typo. Tak apa typo dan salah ketik, namun yang penting Anda luangkan waktu untuk mengedit tulisan Anda sendiri, sehingga tidak ada lagi salah ketik yang sampai mengganggu kenyamanan pembaca.

Perhatikan tulisan ini. “Waktu yang disediakan kutang lama”. Jika itu bagian dari chat di grup WA, pasti akan ramai dikomentari teman-teman grup. Mereka akan fokus pada kata “kutang lama”, dan mengacaukan esensi pesan yang disampaikan. Satu huruf yang mengacaukan konsentrasi pembaca.

  • Tidak dijumpai penulisan yang mengganggu kenyamanan membaca

Salah satu gangguan kenyamanan membaca artikel adalah ketika banyak dijumpai singkatan. Jika Anda terlalu sering menulis untuk chatting di grup, akan terbiasa dengan menyingkat pesan. Hal ini menjadi tidak nyaman jika dibiasakan dalam menulis artikel yang akan diposting di media, baik web, blog, apalagi jika di media cetak, termasuk buku.

Sbh tlsn yg trll bnyk mnggnkn sgktn, akn membt pmbc mrs tdk nymn utk mnrskn bcan. Krn sln it bs mmnclkn plg trjdny kslhn pmhmn, jg mnmblkn ksn And org yg sngt mls. Mk pmbc akn brksmpln, utk ap mmbc tlsn org mls kyk gn. Mndg tdr sj.

  • Telah sesuai dengan PUEBI

“Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dipergunakan bagi instansi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar”, demikian bunyi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, pasal 1.

Oleh karena itu, tulisan Anda perlu disesuaikan dengan standar Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Maka sebagai penulis, Anda perlu mengerti bagaimana cara menggunakan PUEBI agar bisa melakukan editing sendiri. Tentu saja tidak harus sangat ketat memenuhi PUEBI, supaya Anda tidak merasa terbebani dengan menguasai seluruh detail PUEBI. Lakukan penyesuaian semampu Anda, nah ini biar ringan di hati Anda. Sebab kalau Anda mengedit dengan penuh beban, yang akan Anda hasilkan juga beban.

  • Tulisan lancar mengalir saat dibaca

Sebagai penulis, Anda perlu memastikan bahwa tulisan Anda lancar mengalir saat dibaca. Jika Anda merasa belum lancar mengalir, mungkin bisa Anda pertimbangkan untuk menambah atau justru mengurangi kata, kalimat, bahkan paragraf. Namun ini Anda lakukan sesuai kemampuan saja, semua harus berproses. Jangan menuntut kesempurnaan pada tulisan Anda sendiri. Makin sering Anda menulis, akan semakin lancar mengalir. So, santai saja Bro, jika hasil editan Anda sendiri masih belum sempurna.

Selesaikan Menulis, Baru Mengedit

Penting untuk selalu saya ingatkan, bahwa Anda harus memisahkan antara aktivitas menulis dengan aktivitas mengedit. Karena ini adalah dua pekerjaan yang berbeda. Yang membuat Anda merasa sulit saat menulis adalah ketika Anda mengedit pada saat menulis. Dampaknya, menulis menjadi tersendat, tidak lancar, dan terasa sulit. Padahal menulis itu pekerjaan mudah, yang sulit adalah mengedit.

Maka selesaikan dulu proses menulis, agar Anda merasakan kemudahan dalam menulis. Setelah selesai, barulah Anda mengedit tulisan. Apalagi ketika Anda belum menulis sudah mengedit, nah ini tindakan paling konyol dalam dunia tulis-menulis.

Sekali lagi, pisahkan pekerjaan menulis dengan pekerjaan mengedit. Selesaikan terlebih dahulu tulisan Anda baru Anda mengeditnya. Jangan mencampuradukkan aktivitas menulis dengan aktivitas mengedit tulisan.

Menetralkan Perasaan Saat Mengedit

Sebenarnya, jika Anda ingin mengedit tulisan sendiri itu mudah saja. Tinggal buka KBBI Daring dan PUEBI Daring untuk referensi, baca artikelnya lalu ambil tindakan di bagian-bagian tulisan yang harus dirapikan. Semudah itu! Cuma sayangnya, Anda sering tidak tahu cara memanajemen perasaan ketika menghadapi tulisan pribadi. Oleh karena itu, Anda perlu set mode netral saat re-reading tulisan.

Hilangkan pikiran “duh, pas dibaca lagi kok geli ya?” atau, “kok kayak ada yang kurang ya?” atau “ah, udah bagus kok!” Sering penulis menjadi berhenti lama di sini, bahkan bisa berbalik arah. Diteruskan mengedit atau tidak ya? Atau mending menulis tema yang lain saja, semoga bisa lebih baik hasilnya? Kuncinya, netralkan perasaan Anda saat mengedit. Lakukan saja tugas self editing, pasti akan selesai melakukan editing.

Ilfeel, kurang puas, atau terlalu puas adalah tiga penyakit yang sering muncul ketika kita baca ulang tulisan sendiri. Sebenarnya tidak masalah sih, tapi kalau tiga kalimat ini dibiarkan terlalu menguasai, hasil editan –terutama dari segi subtansi – yang kita lakukan jadi kurang maksimal. Usai membaca lagi tulisan kita, ayo stop keluarkan tiga kalimat itu dan ganti dengan kalimat, “oke, mana yang perlu diperbaiki supaya enak dibaca!”

Anda sudah menghabiskan waktu selama beberapa menit atau beberapa jam untuk menulis, maka selesaikanlah apa yang sudah Anda mulai. Jangan berbalik arah karena merasa tidak puas dengan hasil tulisan Anda. Tetaplah mengedit, tetaplah berusaha memperbaiki bagian yang kurang sempurna, semampu Anda. Setelah itu, publikasikan tulisan Anda. Ini yang namanya menghargai hasil karya sendiri.

First Reading

Langkah pertama dalam proses self editing, adalah sesi first reading. Yang dimaksud dengan first reading adalah membaca ulang tulisan secara menyeluruh. Baca ulang semua tulisan Anda, sejak huruf dan kata pertama sampai huruf dan kata terakhir dalam tulisan Anda. Cermatlah dalam melakukan first reading, agar Anda bisa merasakan dan menghayati keseluruhan tulisan Anda —terlebih untuk tulisan yang sangat panjang, seperti bahan untuk buku.

Dengan melakukan first reading, Anda menjadi tahu bagian mana yang melenceng dari jalur, bagian mana yang kurang pas logikanya, tidak nyambung, atau terdapat banyak unsur kesalahan tulisan. Saat melakukan proses editing, akan lebih mudah bagi Anda untuk menemukan bagian yang harus Anda prioritaskan untuk didahulukan pengeditannya.

Proses Self Editing

Setelah Anda selesai melakukan first reading, selanjutnya masuk ke proses pengeditan tulisan, sebagai berikut.

Pertama, Edit Isi Tulisan

Sebelum tulisan dipublikasikan maka penulis wajib melakukan tindakan edit isi agar tulisan menjadi baik dan benar. Yang bisa mengedit isi adalah penulis karena penulislah yang mengetahui pesan yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Kelebihan atau kekurangan satu kata saja akan bisa menimbulkan bias persepsi di kalangan pembaca.

Ingat, isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis. Semua tuntutan akan kembali kepada Anda sebagai penulis. Maka Anda harus memastikan telah mengedit isi tulisan sebelum mempublikasikan.

Kedua, Edit Gaya Bahasa

Edit gaya bahasa perlu dilakukan agar terjadi kesesuaian atau keselarasan gaya bahasa tulisan Anda. Jika berawal dari gaya bahasa formal agar tetap konsisten dengan gaya bahasa formal dari awal sampai akhir, begitu pula jika Anda menggunakan gaya bahasa nonformal harus konsisten hingga akhir. Konsistensi penggunaan gaya bahasa, akan lebih nyaman dan enak dibaca.

Ketiga, Edit Kosakata

Edit kosakata perlu dilakukan agar tidak terjadi pengulangan kosakata pada tulisan Anda. Jika itu terjadi, bisa menimbulkan kejenuhan dan kebosanan. “Kemudian ia berdiri, lalu ia duduk, kemudian ia berdiri lagi, lalu berjalan-jalan sebentar, kemudian berhenti, lalu duduk lagi”. Lelah pembaca bertemu “kemudian” dan “lalu”.

Demikian pula, ketidaksesuaian kosakata bisa membingungkan pembaca. Misalnya, terlalu teknis atau banyak unsur serapan bahasa daerah. Untuk itu, kosakata terpilih perlu disesuaikan dengan sasaran pembaca tulisan Anda. Untuk siapa tulisan Anda, sesuaikan kosakata dengan segmen pembaca Anda.

Keempat, Edit Paragraf

Proses edit paragraf perlu dilakukan agar tulisan membentuk satu kesatuan makna, tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu pendek. Kadang kala, pada tulisan terjadi ketidak koherenan di dalam paragraf maupun antar paragraf yang bisa membingungkan, mengaburkan, dan bisa menimbulkan persepsi lain di kalangan pembaca.

Lakukan upaya untuk mengatasi kondisi antar paragraf yang tidak bersambung. Bisa dilakukan dengan menambah paragraf baru untuk menyambungkan, atau bahkan membuang satu paragraf agar bisa lebih tersambungkan. Kadang Anda harus memecah satu paragraf yang terlalu penjang menjadi dua atau bahkan tiga.

Kelima, Edit Sistematika

Apakah keseluruhan tulisan Anda telah sistematis? Lakukan pengeditan pada sistematika, agar antar bagian dalam tulisan Anda selalu tersambung, misalnya antar subbab dan antar bab satu dengan yang lainnya. Jika Anda merasa ada yang tidak sistematis, Anda masih bisa mengubah sistematika. Meletakkan bab dan subbab secara lebih teratur dan sistematik, sehingga enak dibaca.

Salah satu problem tulisan adalah tidak sistematis. Melompat-lompat, memutar-mutar, dan tidak urut logikanya. Ini sebabnya perlu pengeditan pada sisi sistematika.

Keenam, Edit Ejaan dan Tanda Baca

Pengeditan ejaan dan tanda baca sangat penting agar tulisan kita menjadi baik dan benar. Baik artinya tulisan itu memberikan manfaat serta mudah dipahami oleh pembaca, tidak menimbulkan konflik, tidak berbau sara, dan sebagainya. Benar, artinya tulisan kita berada pada rambu-rambu penulisan yang sesuai dengan kaidah pada KBBI maupun PUEBI.

Ketujuh, Editing Akhir

Yang dimaksud dengan editing akhir adalah mengedit kembali secara menyeluruh tulisan itu, sehingga Anda yakin tulisan Anda telah “sempurna”, sebelum akhirnya naskah Anda akan diedit di meja editor penerbitan buku atau koran dan majalah.

Sebelum tulisan dipublikasikan, perlu Anda edit semampu Anda, walaupun nanti tulisan itu ketika akan diterbitkan juga diedit kembali oleh tim editor penerbitan. Pentingnya proses editing tulisan agar pesan yang Anda sampaikan bisa ditangkap dengan baik oleh pembaca, tanpa menimbulkan persepsi lain, tulisan enak dibaca, dan memberikan kekuatan pesan yang sampai kepada pembaca.

Selamat mengedit tulisan, sebelum mempublikasikan.

Bahan Bacaan

Ella Yusuf, Jadi Editor untuk Tulisan Sendiri? Bisa Kok! www.kompasiana.com, 17 Juni 2015

Hannah Frankman, Six Rules for Writing a Good Article, http://hannahfrankman.com, 13 Desember 2017

Wayan Kerti, Memaksimalkan “Editing” Tulisan, www.kompasiana.com, 30 Juli 2018

PUEBI Daring, https://puebi.readthedocs.io/en/latest/

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.