Oleh : Cahyadi Takariawan
Mas Tammim, demikian saya akrab menyapa beliau[i]. Titik pertemuan saya dengan beliau dimulai dari tahun 1989, pada berbagai aktivitas daurah dan tarbiyah tatsqifiyah. Beliau naik bus dari Jakarta ke Jogja, Solo, Semarang atau ke Salatiga —tergantung tempat yang kami sepakati.
Sosok yang sederhana dan sangat energik. Bisa bertemu dan mengenal Mas Tammim adalah sebuah kemuliaan bagi saya. Beliau salah satu sosok dai dan murabbi yang sangat kuat perannya untuk mengubah jalan hidup saya —untuk menikmati jalan dakwah yang indah. Beliau sosok inspiratif yang mampu menebarkan keteladanan positif bagi kami semua.
Sesekali waktu beliau mengunjungi kami di Yogyakarta. Sesekali waktu beliau mengunjungi kami saat berkumpul di Pondok Pesantren Sabilul Khoirot, Tengaran, Jawa Tengah. Sesekali waktu beliau mengunjungi kami saat kami tengah berkumpul di Solo, dan sesekali waktu beliau mengunjungi kami saat kami tengah berkumpul di Semarang.
Naik bus. Itu yang selalu saya kenang dari aktivitas dakwah beliau. Perjalanan Jakarta – Tegal – Semarang – Salatiga – Solo – Yogyakarta, dan sekitarnya, sangat beliau hafal. Saking seringnya beliau mengunjungi para murid dan binaan di daerah itu. Tak ada rasa lelah dan bosan melakukan perjalanan dakwah.
Sesekali waktu beliau mengundang kami ke Jakarta. Beberapa kali kami harus ke Pisangan —rumah kontrakan beliau saat itu. Sesekali waktu kami harus ke Cakung —rumah kediaman Haji Mukhayar, salah seorang staf beliau dalam mengurus dakwah. Beliau mengajak berdiskusi tentang pengembangan dakwah Islam di wilayah kami masing-masing.
Sesekali waktu saya diundang beliau ke Jakarta dengan mengajak istri. Dengan cara itu, istri saya bisa bertemu dan berinteraksi langsung dengan istri beliau, Mbak Wiwi Wirianingsih. Mas Tammim dan Mbak Wiwi adalah contoh keluarga teladan bagi keluarga kami, maka kami meminta nama untuk anak kedua kami. Mbak Wiwi memberikan nama Khadijah untuk anak kedua kami.
Setiap kali kami diundang untuk bertemu dengan beliau di Jakarta, luar biasa sambutannya kepada kami. Sebagai orang daerah, saya merasa sangat dimuliakan saat di Jakarta. Pak Haji Mansur —salah seorang staf beliau, mendapat tugas menyambut dan menjamu kami. Dengan vespa tuanya, pak Haji Mansur mengantar saya untuk makan, atau menuju terminal bus kota atau stasiun.
Perhatian yang Detail
Pengelolaan amanah dakwah yang sangat bertanggung jawab dan detail, itu salah satu ciri beliau. Suatu ketika saya dipanggil beliau, empat mata, saya ditegur sekaligus dinasehati oleh karena sebuah kesalahan laporan yang saya lakukan pada waktu itu. Saya menangis, menyesal telah berlaku salah, pun membuat beliau kecewa. Saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk membenahi diri.
Peristiwa lain yang masih selalu saya ingat adalah, ketika beliau mengajak saya berbicara empat mata. Sangat serius. Saat itu beliau masih menjabat menjadi anggota DPR RI. Beliau merasa mendapatkan fitnah keji yang sangat mengganggu kehidupan beliau. Benar-benar beliau merasa sangat terganggu dengan fitnah keji itu.
“Cahyadi, kamu mengerti peristiwa ini?” Beliau menyebutkan satu peristiwa tertentu. Ini yang saya sebut sebagai ‘perhatian yang detail’ itu.
“Saya mengerti Mas, karena saya terlibat”, jawab saya.
“Tolong ceritakan apa yang kamu ketahui”, ungkap beliau.
Maka saya ceritakan apa yang saya tahu dari peristiwa tersebut. Beliau sangat seksama mendengarkan, maka saya pun sangat berhati-hati dalam menceritakan. Beliau mengangguk-anggukkan kepala mendengar penuturan saya.
“Bisakah kamu sampaikan cerita kamu ini kepada ustadz, biar beliau mengerti cerita versi kamu ini. Kalau saya yang menceritakan, khawatir dikira membela diri”, tambah beliau.
“Waduh mas, saya tidak punya alasan untuk tiba-tiba datang kepada ustadz dan bercerita seperti ini. Atas alasan apa? Namun jika suatu ketika ustadz bertanya kepada saya, insyaallah akan saya ceritakan kepada beliau”, jawab saya.
Beliau bisa menerima. Dan sampai hari ini, ustadz yang dimaksud tidak pernah bertanya kepada saya tentang hal tersebut, maka saya tidak bercerita kepada beliau.

Sederhana dan Bersahaja
Beliau pernah menjadi anggota DPR RI dari Fraksi PKS. Suatu ketika beliau mengunjungi kami di Yogyakarta —saat beliau sudah menjabat menjadi anggota DPR RI. Naik kereta api dari Jakarta menuju Solo. Dari Solo beliau naik bus ke Yogyakarta. Usai pertemuan terbatas, kami mengajak beliau makan siang. Saat itu, belum ada di antara kami —murid-murid beliau— yang memiliki mobil. Maka kami mengajak beliau naik taksi menuju tempat makan.
Namun beliau menolak. “Jangan mengada-ada. Kalian punya motor, kita bisa memakainya”. Akhirnya beliau kami antarkan ke warung makan dengan dibonceng sepeda motor butut. Padahal beliau pejabat negara. Kemana kami makan siang? Warung lotek di Baciro —tempat makan ala mahasiswa jadul yang sangat sederhana. Beliau menikmati saja.
Naik motor butut bersama anak-anak muda yang tak berada, duduk di warung lotek sangat sederhana, beliau tidak canggung dan enjoy saja. Kami melihat, beliau sosok yang istiqamah, tidak berubah gaya hidupnya meskipun dua periode terpilih menjadi anggota DPR RI.
Masa ‘Pensiun’ dan Berpulang
Setelah tidak lagi menjabat menjadi anggota DPR RI, beliau mendapatkan amanah pada sebuah lembaga dakwah, dimana saya menjadi sekretaris di lembaga itu. Beliau sebagai salah satu staf senior. Ini kejadian sekitar tahun 2010 – 2012.
Setiap kali rapat lembaga, saya yang memimpin. Beliau hadir dan mengikuti rapat dengan antusias. Dalam setiap kali rapat, saya selalu meminta salah satu peserta untuk memberikan tausiyah sebagai pengantar. Saya menunjuk langsung dan acak, karena semua anggota lembaga sudah senior dalam dakwah, sehingga pastinya sangat mudah menyampaikan kalimat tausiyah.
Namun beberapa kali saya meminta Mas Tammim untuk memberi tausiyah, beliau selalu menolak. “Saya lebih berhak untuk dinasehati. Bukan menasehati”, ujar beliau. Bahkan saat saya meminta dengan agak memaksa, beliau tetap bergeming, tidak bersedia memberi tausiyah di forum kami. Saya melihat kehati-hatian yang luar biasa pada diri beliau, terlebih setelah memasuki masa pensiun dari anggota DPR RI.
Salah satu pesan beliau di masa ‘pensiun’ adalah, jagalah kesehatan sebaik-baiknya di masa muda, agar di masa tua tetap bisa bermakna. Pesan itu beliau sampaikan dari pengalaman yang beliau rasakan sendiri. Kondisi kesehatan beliau menurun, yang membuat beliau tidak leluasa berkegiatan dakwah sebagaimana saat masih masa muda,
Hari ini, Kamis 7 Mei 2020 jam 07.56 WIB, beliau dipanggil kembali menghadap Allah di Rumah Sakit Sentra Medika dalam usia 64 tahun. Kami semua —murid-murid dan binaan beliau— sangat merasa kehilangan atas kepulangan beliau. Kami menyaksikan kesungguhan beliau berjihad dalam dunia dakwah, sejak beliau muda belia hingga di akhir hayat beliau. Murid-murid hasil gemblengan beliau, saat ini aktif melakukan dakwah dalam berbagai bidang.
Teriring kesedihan hati, kami langitkan doa semoga beliau husnul khatimah.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
“Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah guru saya dan sahabat saya Mas Tammim. Bebaskanlah dan maafkanlah dia. Luaskanlah kuburnya dan mandikanlah ia dengan air, salju dan embun. Sucikan ia dari seluruh kesalahan seperti dibersihkannya kain putih dari kotoran. Berikan ia rumah yang lebih baik dari rumahnya di dunia, berikan kepadanya keluarga yang lebih baik dari keluarganya, berikan kepadanya pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Masukkanlah ia ke dalam surga dan lindungilah ia dari siksa kubur dan azab neraka.
Aamiin.
[i] Mutammimul Ula, SH lahir pada tanggal 2 April 1956 di Sragen. Beliau adalah seorang Magister Ilmu Hukum Universitas Indonesia tahun 2007 yang sebelumnya menyelesaikan Sarjana Hukum di Universitas Diponegoro tahun 1982. Pada tahun 1977 beliau juga menempuh pendidikan di Fakultas Syariah Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Dalam dunia politik, beliau pernah menjadi anggota DPR-RI pada periode 1999 – 2004 dan terpilih kembali pada periode 2004-2009. Menikah dengan Dra. Hj. Wirianingsih, dikaruniai 11 anak yang semuanya hafizh Qur’an.