Kembali
Yang Pergi di Masa Pandemi

Mas Fanni

.

Oleh : Sholihin “Zero to Hero”

.

“Sudah ketemu mas Fanni?” Begitu pertanyaan Bapak, ayahanda Mas Fanni,  H.M.Syaibani.

Setiap saya berkesempatan shubuhan di Masjid Jogokariyan saya berusaha cari tempat dekat dengan Bapak pojok depan kiri, shaf depan. Sungkem. Sedikit berbicang. Dan beliau seringkali menanyakan itu, “Sudah ketemu Mas Fanni?” Mungkin pertanyaan sederhana. Namun menunjukkan perhatian dan kedekatan kami, saya dengan Mas Fanni dan Bapak.

“Datang jam berapa?” Itu pertanyaan Bapak berikutnya. Adapun Mas Fanni tanyanya khas, “Sudah dhahar PakDe?” atau “Mau dhahar apa?” beliau ngikut diajak makan di mana.

Mas Fanni sungguh orang yang mengenalkan aku, katak dalam tempurung, ke dunia yang lebih luas melalui kesempatan yang diberikan untuk menerbitkan buku di @proumedia

Banyak nasihat simpel tapi mendasar tentang keumatan dan dakwah yang luar biasa. Keikhlasan. Tidak hidup dari dakwah. Tapi berusaha untuk menghidupkan dakwah. Berkontribusi tiada henti.

Mulai dari Masjid Jogokariyan, BKPRMI, Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu @pesantren_m3 , @sahabatalaqsha, @baitulmaalmerapimerbabu @muslimunited dan sebagainya.

Untuk sekadar mengiringi langkahnya saja saya merasa kewalahan. Maka tidak heran kalau Bapak –yang saya nembung berkenan untuk menjadi “orangtua” bagi saya yang yatim piatu– selalu bertanya, “Sudah ketemu Mas Fanni?”

Karena beliau tahu dan ridha bahwa anaknya adalah milik umat Islam seluruh dunia mulai Palestina, Suriah hingga Rohingya.

Mungkin beliau nggak sempat menulis, namun justru ide idenya yang saya baca dan tangkap kemudian saya tuliskan.

Jadi beliau melampaui para penulis. Back to Tarbiyah judul itupun usulan beliau ketika melihat pentingnya penguatan tarbiyah agar tidak larut dan hanyut dalam dunia politik.

Usai erupsi Merapi 2010, bersama @kangpujihartono dan Ust @salimafillah beliau dirikan pesantren untuk cetak kader dakwah siap saji yang Migunani Tumraping Liyan. @_pkshol cukup sebagai penggembira. Ikut senang akan ikhtiar ini.

“Sudah ketemu Mas Fanni?”

Insya Allah di jannah Nya. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Rahimahullahu waasi’an sahabatku, Guruku, mentorku, penasihat dan pengkritik unikku, pengusul judul buku dan eksekutor desain cover bukuku.

Rahimahullahu waasi’an. Sugeng tindak Mas Fanni.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.