Kembali
Sastra Budaya

Kebudayaan sebagai Media Dakwah

Oleh : Cahyadi Takariawan

Budaya berasal dari bahasa Sansekerta “buddhayah“, yang merupakan bentuk jamak dari kata “buddhi” yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal.”
Culture, menurut Hassan Shadily dalam Kamus Indonesia – Inggris, merupakan istilah yang sama artinya dengan budaya. Kata culture berasal dari bahasa latin “colere” yang berarti mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau bertani. Dari asal arti tersebut kemudian culture diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan merubah alam.

Kebudayaan, oleh Hassan Syadily diterjemahkan sebagai civilization, oleh Purwodarminto dijabarkan dalam dua tinjauan yaitu tinjauan hasil dan tinjauan proses. Dari tinjauan hasil, “Kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian adat-istiadat dan lain-lain”. Sedangkan tinjauan proses, “Kebudayaan adalah kegiatan (usaha) batin (akal) manusia untuk menciptakan sesuatu yang termasuk kebudayaan”.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits  dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk itu adalah cultural-determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic,

Kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan segala pernyataan intelektual serta artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan potensi lain yang dimiliki seseorang atau sekelompok masyarakat.

Dakwah dan Kebudayaan Masyarakat

Dakwah Islam memiliki orientasi mengajak seluruh umat manusia melaksanakan nilai-nilai Ketuhanan yang penuh dengan kebajikan dan keadilan. Namun tidak jarang dakwah mengalami perbenturan nilai di tengah masyarakat, salah satunya disebabkan oleh minimnya pendekatan budaya dalam penyampaian dakwah. Metoda dakwah yang bercorak “Timur Tengah” harus beradaptasi dengan berbagai budaya lokal, maka kearifan para aktivis dakwah dalam memahami dan menggunakan pendekatan budaya lokal sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penetrasi dakwah. 

Untuk itulah, proses dakwah –termasuk dalam konteks politik—tidak bisa dilepaskan dari bingkai kebudayaan. Ini adalah sebentuk strategi untuk memenangkan dakwah dengan jalan yang natural dan minim benturan. Pada akhirnya, kehadiran Islam yang rahmatan lil ‘alamin akan mencapai titik keserasian dengan penerimaan masyarakat akan dakwah yang universal, karena kemampuan memanfaatkan medium budaya.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.