.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Hari ini, Rabu 25 Agustus 2021, adalah jadwal kontrol pertama semenjak keluar dari RS UII Yogyakarta. Ini adalah hari ke-8 setelah keluar dari rumah sakit. Kondisi saya selama delapan hari di rumah, tidak ada rasa mengantuk, dan tidak ada selera makan.
Tadi pagi pukul 9.30 saya mendapat giliran diperiksa dr. Rina Juwita, Sp.PD dari RS UII, yang sejak awal saya terinfeksi Covid-19 sudah memberikan petunjuk isoman kepada saya. Bahkan saya dirawat RS UII selama terinfeksi corona juga atas rekomendasinya.
Setelah ditanya dan diperiksa, dr. Rina menyatakan, bahwa kondisi saya “belum aman”. Pernyataan ini penting bagi saya, agar saya tetap hati-hati dan waspada. Kadang kita merasa aman karena hasil test PCR sudah negatif.
Mengapa belum aman? Dr. Rina menceritakan, banyak pasien Covid-19 yang merasa aman setelah pulang dari rumah sakit, padahal proses pemulihan belum selesai. Akhirnya kondisi fisik mereka justru melemah.
Virus corona memang sangat jahat. Dia bisa menimbulkan kerusakan sistemik. Setiap orang bisa mendapatkan dampak kerusakan di tempat yang berbeda.
Beberapa orang mengalami kerusakan permanen pada paru-parunya. Sebagian mengalami penggumpalan darah yang menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah.
Sebagian pasien mengalami gangguan pada sistem pencernaan. Pasien lain mengalami kondisi yang lemah secara fisik, lemah secara ingatan, bahkan gangguan perasaan.
Oleh karena itu, saya direkomendasikan untuk tetap memperbanyak istirahat dan belum melakukan aktivitas berat. Olah raga disarankan yang ringan, belum boleh olahraga berat.
Saya juga harus melatih paru-paru saya agar kembali berfungsi normal, setelah mengalami serangan hebat selama masa terinfeksi virus corona. Napas saya masih berat hingga sekarang.
Dr. Rina menceritakan kondisi beberapa pasien Covid yang ditangani, setelah pulang dari rumah sakit mengalami kondisi fisik yang terus menurun. Akhirnya direkomendasikan untuk kembali dirawat di rumah sakit.
Itu sebabnya, selesai peperangan terhadap virus corona –yang dibuktikan hasil test PCR negatif, sesungguhnya belum aman. Masih ada proses pemulihan kondisi tubuh yang rusak akibat serangan corona.
Dari berbagai keterangan tersebut, saya menyimpulkan bahwa sangat penting bagi setiap warga masyarakat yang terkonfirmasi positif corona untuk segera melakukan pemeriksaan medis. Tujuannya, agar diketahui kerusakan yang dirtimbulkan oleh corona pada tubuh sehingga bisa diambil tindakan.
Anak, menantu dan cucu saya segera periksa ke RSA UGM Yogyakarta, setelah terkonfirmasi positif corona. Di RSA UGM, mereka mendapatkan pemeriksaan darah dan rontgen. Selanjutnya dokter memberikan keterangan hasil pemeriksaan tersebut secara detail.
Untuk anak, menantu dan cucu, ketiganya dinyatakan tidak ada kerusakan pada sistem tubuh. Maka mereka bertiga direkomendasikan untuk isoman di rumah selama dua pekan. Mereka bertiga mendapatkan sejumlah obat dan suplemen.
Yang perlu diketahui, semua tindakan pemeriksaan, konsultasi dokter, termasuk obat-obat dan suplemen tersebut diberikan secara GRATIS. Tidak ada biaya apapun, termasuk biaya pendaftaran. Semuanya gratis.
Pelayanan RSA UGM juga sangat bagus –begitu komentar anak dan menantu saya yang merasa puas dengan pelayanan yang diterima. “Bagus dan cepat”, kata anak saya.
Apa bedanya pasien covid yang periksa dan yang menolak periksa dokter? Bedanya adalah, bagi yang periksa, akan diketahui dampak kerusakan pada tubuh.
Jika ada kerusakan –seperti pada diri saya, maka akan dirawat di rumah sakit sampai sembuh. Jika tidak ditemukan kerusakan, dipersilakan isolasi mandiri di rumah.
Jadi warga masyarakat yang merasa bergejala, lalu memutuskan isoman di rumah tanpa periksa apa-apa, lalu merasa sembuh, sebenarnya mereka tidak mengetahui apa yang telah terjadi dalam tubuh.
Kondisi seperti apa yang disebut sebagai sembuh? Sementara mereka tidak mengetahui kerusakan yang mungkin dirtimbulkan oleh corona dalam tubuh kita.
Jadi, jangan malas periksa ke rumah sakit rujukan. Untuk Yogyakarta, RSA UGM adalah salah satu rumah sakit rujukan Covid. Gratis, tidak berbayar, masih mendapat obat dan suplemen kesehatan. Kurang apa lagi?
Yogyakarta, 25 Agustus 2021